Health CSIRT Forum 2025: Wujudkan Layanan Kesehatan Aman & Cerdas
- Rita Puspita Sari
- •
- 18 jam yang lalu

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, S.E., M.A., Ph.D, dalam keynote speech-nya di Health CSIRT Forum 2025
Transformasi digital di sektor kesehatan Indonesia memasuki babak baru. Pemanfaatan teknologi informasi telah menjangkau berbagai aspek layanan, mulai dari penerapan rekam medis elektronik, sistem manajemen rumah sakit, hingga layanan telemedis yang mempermudah pasien dalam mengakses layanan kesehatan. Namun, seiring percepatan digitalisasi ini, risiko keamanan siber semakin kompleks dan membutuhkan perhatian serius.
Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam Health CSIRT Forum 2025 yang digelar di Aula Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Rabu (27/8). Dengan tema “Transformasi Digital Layanan Kesehatan yang Aman dan Terpercaya”, forum ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, perusahaan teknologi global, hingga penyedia solusi keamanan digital nasional.
Digitalisasi dan Kepercayaan Publik
Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, S.E., M.A., Ph.D, dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa keamanan bukanlah pilihan, melainkan fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik.
“Selain membangun sistem yang kuat dan terintegrasi, kita harus memperkuat keamanannya. Dengan begitu, masyarakat akan percaya. Dulu orang membayar tol dengan uang tunai, sekarang sudah memakai e-toll. Perubahan itu bisa diterima karena sistemnya dibangun dengan baik dan dipercaya,” ujarnya.
Menurut Kunta, digitalisasi di sektor kesehatan menyangkut data pribadi dan keselamatan pasien. Jika data kesehatan bocor atau jatuh ke tangan yang salah, risikonya bukan hanya hilangnya privasi, tetapi juga nyawa pasien bisa terancam.
“Kita harus menjaga kerahasiaan data agar tidak bocor. Dan itu tidak bisa dilakukan sendirian. Semua pihak harus bekerja sama untuk memperbaiki celah yang ada,” tegasnya.
Kunta juga menyinggung tentang SATUSEHAT, platform integrasi data kesehatan nasional yang kini semakin luas digunakan. Menurutnya, semakin besar pemanfaatan SATUSEHAT, semakin besar pula risiko serangan siber yang mengintai. Data terbaru menunjukkan bahwa 41% fasilitas kesehatan sudah terdata, 40% sudah terkoneksi, dan 30,5% sudah terintegrasi dalam sistem tersebut.
“Digitalisasi memang meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, risiko serangan siber juga meningkat. Itulah pentingnya forum Health CSIRT ini sebagai langkah strategis,” jelas Kunta.
Oleh sebab itu, forum Health CSIRT hadir untuk merumuskan langkah strategis:
- Meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan, mulai dari klinik, rumah sakit, puskesmas, hingga apotek dan farmasi.
- Membangun kapasitas teknis melalui peningkatan keterampilan, penguatan sistem, dan adopsi strategi keamanan yang tepat.
- Mendukung implementasi regulasi agar tata kelola data sesuai dengan kerangka hukum dan kebijakan nasional.
- Memperkuat kolaborasi lintas sektor, melibatkan Kemenkes, BSSN, penyedia teknologi, hingga masyarakat luas.
Kunta menegaskan, “Digitalisasi tidak bisa ditolak. Tanpa itu, Indonesia sulit menjadi negara maju. Tetapi, digitalisasi harus dibarengi dengan penguatan keamanan siber. Keamanan siber kesehatan adalah benteng utama dalam menjaga keselamatan pasien sekaligus kepercayaan masyarakat.”
Sinergi Pemerintah dan BSSN dalam Menjaga Keamanan Siber
Deputi Bidang Siber dan Sandi Perekonomian, Drs. Slamet Aji Pamungkas, M.Eng, dalam keynote speech menegaskan pentingnya kolaborasi antara Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dengan Health CSIRT dalam menjaga keamanan data dan layanan kesehatan. Menurutnya, serangan siber terhadap sektor kesehatan bukan lagi sekadar ancaman, tetapi sudah menjadi kenyataan yang menimbulkan dampak besar, baik dari sisi teknis maupun kepercayaan publik.
BSSN memiliki tugas strategis berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2021, yakni menyelenggarakan pemerintahan di bidang keamanan siber dan sandi. Menurut Slamet, data kesehatan merupakan aset vital yang harus dilindungi sejalan dengan amanat UUD 1945 dan arahan Presiden RI.
Slamet mencontohkan dua insiden besar: peretasan SingHealth Hospital di Singapura pada 2018 dan kebocoran data BPJS Kesehatan pada 2021. Kedua kasus itu menunjukkan bahwa serangan siber bisa mengakibatkan kerugian teknis sekaligus menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan.
Serangan-serangan ini bukan hanya menimbulkan kerugian teknis, tetapi juga menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap keamanan sistem kesehatan digital.
Laporan Sophos 2024 mengungkapkan fakta mengkhawatirkan: 67% organisasi kesehatan di seluruh dunia mengalami serangan ransomware pada 2024. Angka ini meningkat 7% dibanding tahun sebelumnya. Di Indonesia sendiri, BSSN mencatat total 3,95 miliar anomali trafik siber sejak Januari hingga 22 Agustus 2025.
Kondisi Ruang Siber Indonesia
Berdasarkan data BSSN, sepanjang Januari hingga 22 Agustus 2025 tercatat lebih dari 3,9 miliar anomali trafik nasional. Angka tersebut menegaskan tingginya intensitas aktivitas siber yang harus direspons secara cepat.
Untuk mengantisipasi ancaman ini, pemerintah telah membentuk 561 Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) di berbagai sektor hingga 25 Agustus 2025, termasuk 4 TTIS khusus sektor kesehatan.
Dukungan Teknologi Global: Intel Tawarkan Solusi Cerdas
Dalam forum tersebut, Fransiskus Leonardus, Director of Enterprise Business Intel Indonesia, menegaskan peran penting teknologi untuk mendukung layanan kesehatan modern.
Intel mengusung visi “Beyond Silicon, Enabling Smarter Healthcare” dengan fokus pada empat pilar:
- AI & Edge Computing: menyediakan analisis cerdas real-time untuk diagnosis cepat.
- Secure Infrastructure: menghadirkan ekosistem cloud dan edge yang aman.
- Ecosystem Partnerships: mendorong kolaborasi dengan pemerintah, NGO, dan industri.
- Real-World Success Stories: penerapan nyata teknologi Intel di bidang kesehatan.
Beberapa contoh keberhasilan Intel termasuk penggunaan AI dalam triase darurat (Qmed NORA), teknologi AI ultrasound Samsung Medison untuk perawatan prenatal, serta kerja sama dengan National Cancer Society Malaysia untuk memperluas akses kesehatan di pedesaan.
Smart Hospital: Masa Depan Layanan Kesehatan
Direktur PT Sinergi Transformasi Digital, Neil Ihsal Imbran, menyoroti pentingnya konsep Smart Hospital sebagai langkah strategis. Menurutnya, transformasi rumah sakit menjadi fasilitas cerdas adalah proses bertahap yang memerlukan perencanaan matang, kolaborasi lintas sektor, dan evaluasi berkelanjutan.
“Rumah sakit yang bertransformasi menjadi Smart Hospital akan mampu meningkatkan kualitas pelayanan, efisiensi operasional, serta memanfaatkan teknologi untuk hasil yang lebih baik,” jelas Neil.
Dari sisi perusahaan teknologi kesehatan, Cinde Warno, AVP IT Solution PT Widya Prodia Husada Tbk, menegaskan bahwa transformasi digital di bidang kesehatan bersifat inevitable alias tidak bisa dihindari.
Menurut Cinde, teknologi digital membuat layanan kesehatan lebih efisien, berkualitas, dan inklusif. Namun ia juga mengingatkan bahwa keamanan harus menjadi fondasi utama, melalui penerapan DevSecOps yang matang dan operasional CSIRT yang handal.
Solusi Keamanan dari Industri Lokal
Peran inovasi lokal juga disorot dalam forum ini. Iqbal Ilman Firdaus, Cyber Security Team Lead dari Alpha Digital Solusi, memaparkan tiga layanan utama perusahaannya untuk sektor kesehatan:
- Security Consulting: membantu rumah sakit membangun tim tanggap siber internal.
- Managed Detection & Response: layanan respons insiden dan konsultasi proaktif.
- Managed Security Services: perlindungan operasional 24/7 yang efektif dan efisien.
Dengan pendekatan ini, Alpha Digital Solusi ingin memastikan bahwa rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Indonesia siap menghadapi ancaman siber yang kian kompleks.
Menuju Ekosistem Kesehatan Digital yang Aman
Transformasi digital di sektor kesehatan memang membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas layanan medis di Indonesia. Namun, keamanan data pasien harus tetap menjadi prioritas utama. Seperti diingatkan para narasumber, keberhasilan digitalisasi kesehatan tidak hanya bergantung pada adopsi teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia, kebijakan yang kuat, dan kerja sama lintas sektor.
Dengan sinergi pemerintah, industri teknologi global, perusahaan lokal, dan institusi kesehatan, Indonesia diharapkan mampu membangun ekosistem layanan kesehatan digital yang aman, terpercaya, dan inklusif.